Berikut ini merupakan pertanyaan pada sebuah ujian di Universitas Copenhagen, jurusan fisika :
Uraikan cara untuk menentukan tinggi dari sebuah gedung pencakar langit, dengan menggunakan barometer.
Seorang mahasiswa menjawab : ” Ikatkan saja seutas kawat ke leher barometer, lalu turunkan barometernya sampai ke tanah. Panjang kawat ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi bangunan itu.”
Jawaban jujur ini membuat para penguji berang. Dapat dipastikan, si mahasiswa akan gagal ujian seketika. Namun si mahasiswa protes, berkata bahwa jawabannya tidak salah. Kemudian, pihak Universitas menunjuk seorang penengah untuk memecahkan masalah ini.
Sang penengah tidak meragukan bahwa jawaban si mahasiswa benar, tetapi tidak mencerminkan pengetahuan tentang fisika sama sekali. Untuk menyelesaikan masalah ini, diputuskan untuk memanggil si mahasiswa dan memberinya kesempatan 6 menit untuk pembuktian lisan, yang setidaknya menunjukkan prinsip-prinsip dasar fisika.
Selama 5 menit, si mahasiswa hanya duduk bergeming. Dahinya berkerut, tampak berpikir. Sang penengah kemudian mengingatkan kalau waktu terus berjalan. Si mahasiswa menjawab, bahwa dia telah menemukan beberapa jawaban yang sungguh relevan, tapi belum bisa memutuskan mana yang mau dia kemukakan. Akhirnya, karena diburu-buru, si mahasiswa pun mulai menjawab seperti ini:
yeah, i’m back!! setelah sekian lama menjadi spectator akun tumblr-nya org2 saya jadi jarang buanget ngepost lagi. Insya Allah setelah badai kegalauan paper ICRAS dan kuesionernya Aleks ini berlalu, saya mulai rajin nge-post lagi, tentunya dengan tulisan2 yg serius, bukan sekedar reblog akun orang.
oh ya, akhir2 ini entah knp saya jadi rajin baca karya2nya Freud, bahkan saya koleksi lengkap semua karyanya, mulai dari Studi-Studi Tentang Histeria, buku yg pertama ia tulis bareng sama Josep Breuer, sampe Moses and Monotheism, karya terakhir yg diterbitkan sebelum kematiannya. akhir2 ini saya juga sangat tertarik sama gagasan2nya Lacan, seorang psikoanalis Prancis yg sangar betul; ngawinin idenya Freud sama De Saussure, nah lho kaya apa tuh coba? entah karena saya penasaran setengah mati sama psikoanalisis, karena saya mikirnya teori ini terlalu banyak disalahpahami oleh pembaca2nya. ngga heran kalo Freud sering mengejek org2 yg mengkritiknya sebagai seorang awam dalam psikoanalisis. nah, akhirnya saya memproduksi satu tulisan sebagai usaha saya untuk memparipurnakan hasil bacaan saya selama 2 minggu terakhir. selain tulisan ini, saya juga menulis satu artikel yang membahas totem dan oidipus kompleks dalam pandangan Lacan dan Freud sekaligus. artikel tsb akan saya presentasikan di ICRAS 2011 yang akan diselenggarakan di Jogja bulan Juli 2011. kalo tulisannya udah rampung, saya post disini juga deh :D
Selamat Menikmati!
“Don’t be sad, Allah is with us” [9:40]
(Source: forthesakeofallah)
yeeeeyy akhirnyaaa setelah berabad-abad ngga numblr akhirnya saya numblr lagiiiii *backsound go go power ranger di kejauhan
akhirnya si sumber galau bernama skripsi itu jadi juga. bertebal sekitar 400 halaman (termasuk lampiran yang berisi verbatim, koding, dan teman2nnya) itu dibolehin pak ilham untuk maju sidang yeeeyyyy. alhamudulillah ya Allah… tinggal KKN langsung deh cuss wisuda nanti bulan April.

cara pengerjaan skripsi ini sangat amburadul. penyakit prokastinasi saya awalnya sempat kambuh beberapa saat setelah selesai ambil data di Jakarta. tapi dengan males2an niat seteguh baja akhirnya selesai jugaaaaaaa :D
bagian terparah dari nykripsi kualitatif adalah koding dan bab IV-nya. sangat menyiksa buat orang seperfeksionis saya. ngga heran akhirnya saya nge-stuck 5 hari penuh kegalauan bersama si bab IV. tapi ya udahlah wong ya udah selesai, udah ditandatangani pak Ilham dan siap sidang 2 minggu lagi :)
oh iya, sekitar 2 minggu yang lalu saya akhirnya menginjak tanah Kalimantan looh! ceritanya gini, ada seorang dosen saya yang meminta bantuan saya untuk menggantikan posisinya untuk sebuah acara dan jadilah saya yang cupu ini berangkat ke Bontang, Kalimantan Timur dan ini merupakan pengalaman saya yang pertama kali ke Kalimantan.